KH Muhammad Najih Tak Rela PPP Berkoalisi dengan Partai Anti Islam
07 May 2014
Serang
– FPI: Putra pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang Rembang KH
Maimoen Zubair, KH Muhammad Najih MZ secara tegas menolak bakal calon
presiden dari Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) Joko Widodo atau Jokowi.
Menurut Gus Najih, panggilan akrabnya, tidak rela PPP berkoaliasi
dengan partai kaum abangan yang anti Islam.
Gus
Najih mengutarakan, PPP sangat gigih menolak aliran-aliran sesat di
Indonesia, memperjuangkan RUU Pornoaksi-Pornografi, UU Pendidikan dan UU
lainnya yang berbau Islami. Ia mencohkan sikap anti Islam PDIP seperti
UU Pendidikan mereka walk out, UU Bank Syariah, UU Ekonomi Syariah
mereka tidak setuju, UU Pornografi juga mereka tidak setuju.
Berikut ini pernyataan sikap KH Muhammad Najib MZ, yang dipublikasikan melalui Tarqiyah Online, terkait penolakan capres Jokowi :
Fatwa KH. NAJIH MAIMOEN ZUBER
Untuk Kaum Muslimim dan Partai Islam
Terkait Pencapresan JOKOWI
-
Saya
menolak adanya pergerakan para elite politik PPP yang mewacanakan PPP
berkoalisi dengan PDI-P yang mengusung Jokowi sebagai Capres. Saya tidak
rela PPP berkoaliasi dengan partai kaum abangan yang anti islam.
-
Sebagai
satu-satunya Partai Islam yang masih konsis, platform PPP jelas berbeda
dengan ideologi dan platform PDI-P. Betapa gigihnya PPP menolak aliran-
aliran sesat di Indonesia, memperjuangkan RUU Pornoaksi-Pornografi, UU
Pendidikan dan UU lainnya yang berbau islami. Sementara PDIP adalah
partai yang anti Islam. Hal itu dibuktikan dari berbagai produk
legislasi Islami yang coba dijegal oleh PDIP.
-
Semua
RUU yang diajukan PPP ke DPR dan berbau Islami pasti PDI menolaknya. UU
Pendidikan mereka walk out, UU Bank Syariah, UU Ekonomi Syariah mereka
tidak setuju, UUPornografi juga mereka tidak setuju. Nah, sekarang UU
Jaminan Produk Halal untuk makanan dan obat-obatan mereka juga tidak
setuju.
-
Selain
itu, dalam pemilu 2014 lalu, PDI-P memasang 52% caleg non Muslim dalam
Daftar Caleg Tetap-nya. PDI-P sendiri sebenarnya merupakan fusi dari
partai Nasionalis dan partai Kristen seperti IPKI, PNI, Murba, Partai
Katolik, dan Parkindo (Partai Kristen Indonesia).
-
Disisi
lain, pencapresan Jokowi tidak didukung oleh prestasi, kinerja, dan
hasil positif. Dalam pertarungan pilpres nanti, pasti rakyat akan
melihat hasil kerja, bukan pencitraan.
-
Sebagai
partai Islam, harusnya PPP merasa hina, berkoalisi dengan partai yang
anti Islam, mendukung capres yang menjadi boneka Barat-Zionis-mafia
China, ataukah hanya demi uang, para elite politik itu telah
mengkhianati amanat para sesepuh pendiri PPP dengan menggadaikan
ideologi PPP..?!
Sarang,1 Mei 2014
H. Muhammad Najih
Wallahu A‘lam.